Rabu, 31 Desember 2008

Antara Zionisme Dan Yahudi

Keberhasilan terbesar bagi Zionisme adalah de-Yahudi-isasi bangsa Yahudi.
Musim panas tahun 1982 menjadi saksi atas kebiadaban luar biasa yang menyebabkan seluruh dunia berteriak dan mengutuknya dengan keras. Tentara Isrel memasuki wilayah Lebanon dalam suatu serbuan mendadak, dan bergerak maju sambil menghancurkan sasaran apa saja yang nampak di hadapan mereka.

Pasukan Israel ini mengepung kamp-kamp pengungsi yang dihuni warga Palestina yang telah melarikan diri akibat pengusiran dan pendudukan oleh Israel beberapa tahun sebelumnya. Selama dua hari, tentara Israel ini mengerahkan milisi Kristen Lebanon untuk membantai penduduk sipil tak berdosa tersebut. Dalam beberapa hari saja, ribuan nyawa tak berdosa telah terbantai.

Terorisme biadab bangsa Israel ini telah membuat marah seluruh masyarakat dunia. Tapi, yang menarik adalah sejumlah kecaman tersebut justru datang dari kalangan Yahudi, bahkan Yahudi Israel sendiri. Profesor Benjamin Cohen dari Tel Aviv University menulis sebuah pernyataan pada tanggal 6 Juni 1982:
Saya menulis kepada anda sambil mendengarkan radio transistor yang baru saja mengumumkan bahwa ‘kita’ sedang dalam proses ‘pencapaian tujuan-tujuan kita’ di Lebanon: yakni untuk menciptakan ‘kedamaian’ bagi penduduk Galilee. Kebohongan ini sungguh membuat saya marah. Sudah jelas bahwa ini adalah peperangan biadab, lebih kejam dari yang pernah ada sebelumnya, tidak ada kaitannya dengan upaya yang sedang dilakukan di London atau keamanan di Galilee…Yahudi, keturunan Ibrahim…. Bangsa Yahudi, mereka sendiri menjadi korban kekejaman, bagaimana mereka dapat menjadi sedemikian kejam pula? … Keberhasilan terbesar bagi Zionisme adalah de-Yahudi-isasi bangsa Yahudi. (”Professor Leibowitz calls Israeli politics in Lebanon Judeo-Nazi” Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)

Benjamin Cohen bukanlah satu-satunya warga Israel yang menentang pendudukan Israel atas Lebanon. Banyak kalangan intelektual Yahudi yang tinggal di Israel yang mengutuk kebiadaban yang dilakukan oleh negeri mereka sendiri.
Pensikapan ini tidak hanya tertuju pada pendudukan Israel atas Lebanon. Kedzaliman Israel atas bangsa Palestina, keteguhan dalam menjalankan kebijakan penjajahan, dan hubungannya dengan lembaga-lembaga semi-fasis di bekas rejim rasis Apartheid di Afrika Selatan telah dikritik oleh banyak tokoh intelektual terkemuka di Israel selama bertahun-tahun. Kritik dari kalangan Yahudi sendiri ini tidak terbatas hanya pada berbagai kebijakan Israel, tetapi juga diarahkan pada Zionisme, ideologi resmi negara Israel.

Ini menyatakan apa yang sesungguhnya terjadi: kebijakan pendudukan Israel atas Palestina dan terorisme negara yang mereka lakukan sejak tahun 1967 hingga sekarang berpangkal dari ideologi Zionisme, dan banyak Yahudi dari seluruh dunia yang menentangnya.

Oleh karena itu, bagi umat Islam, yang hendaknya dipermasalahkan adalah bukan agama Yahudi atau bangsa Yahudi, tetapi Zionisme. Sebagaimana gerakan anti-Nazi tidak sepatutnya membenci keseluruhan masyarakat Jerman, maka seseorang yang menentang Zionisme tidak sepatutnya menyalahkan semua orang Yahudi.

Asal Mula Gagasan Rasis Zionisme
Setelah orang-orang Yahudi terusir dari Yerusalem pada tahun 70 M, mereka mulai tersebar di berbagai belahan dunia. Selama masa ‘diaspora’ ini, yang berakhir hingga abad ke-19, mayoritas masyarakat Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas kesamaan agama mereka. Sepanjang perjalanan waktu, sebagian besar orang Yahudi membaur dengan budaya setempat, di negara di mana mereka tinggal. Bahasa Hebrew hanya tertinggal sebagai bahasa suci yang digunakan dalam berdoa, sembahyang dan kitab-kitab agama mereka. Masyarakat Yahudi di Jerman mulai berbicara dalam bahasa Jerman, yang di Inggris berbicara dengan bahasa Inggris. Ketika sejumlah larangan dalam hal kemasyarakatan yang berlaku bagi kaum Yahudi di negara-negara Eropa dihapuskan di abad ke-19, melalui emansipasi, masyarakat Yahudi mulai berasimilasi dengan kelompok masyarakat di mana mereka tinggal. Mayoritas orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah ‘kelompok agamis’ dan bukan sebagai sebuah ‘ras’ atau ‘bangsa’. Mereka menganggap diri mereka sebagai masyarakat atau orang ‘Jerman Yahudi’, ‘Inggris Yahudi, atau ‘Amerika Yahudi’.

Namun, sebagaimana kita pahami, rasisme bangkit di abad ke-19. Gagasan rasis, terutama akibat pengaruh teori evolusi Darwin, tumbuh sangat subur dan mendapatkan banyak pendukung di kalangan masyarakat Barat. Zionisme muncul akibat pengaruh kuat badai rasisme yang melanda sejumlah kalangan masyarakat Yahudi.

Kalangan Yahudi yang menyebarluaskan gagasan Zionisme adalah mereka yang memiliki keyakinan agama sangat lemah. Mereka melihat “Yahudi” sebagai nama sebuah ras, dan bukan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu keyakinan agama. Mereka mengemukakan bahwa Yahudi adalah ras tersendiri yang terpisah dari bangsa-bangsa Eropa, sehingga mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan oleh karenanya, mereka perlu mendirikan tanah air mereka sendiri. Orang-orang ini tidak mendasarkan diri pada pemikiran agama ketika memutuskan wilayah mana yang akan digunakan untuk mendirikan negara tersebut.

Theodor Herzl, bapak pendiri Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini dikenal dengan nama ‘Uganda Plan’. Kaum Zionis kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai ‘tanah air bersejarah bangsa Yahudi’, dan bukan karena nilai relijius wilayah tersebut bagi mereka.
Para pengikut Zionis berusaha keras untuk menjadikan orang-orang Yahudi lain mau menerima gagasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama mereka ini.

Organisasi Yahudi Dunia, yang didirikan untuk melakukan propaganda masal, melakukan kegiatannya di negara-negara di mana terdapat masyarakat Yahudi. Mereka mulai menyebarkan gagasan bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat hidup secara damai dengan bangsa-bangsa lain dan bahwa mereka adalah suatu ‘ras’ tersendiri; dan dengan alasan ini mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Sejumlah besar masyarakat Yahudi saat itu mengabaikan seruan ini.

Dengan demikian, Zionisme telah memasuki ajang politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang meyakini bahwa masyarakat Yahudi tidak seharusnya hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Di satu sisi, gagasan keliru ini memunculkan beragam masalah serius dan tekanan terhadap masyarakat Yahudi yang hidupnya tersebar di seluruh dunia. Di sisi lain, bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah, hal ini memunculkan kebijakan penjajahan dan pencaplokan wilayah oleh Israel, pertumpahan darah, kematian, kemiskinan dan teror.

Banyak kalangan Yahudi saat ini yang mengecam ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka, mengatakan:
‘Zionisme berkeinginan untuk mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai sebuah bangsa …. ini adalah sesuatu yang menyimpang (dari ajaran agama)’. (Washington Post, 3 Oktober 197

Seorang pemikir terkemuka, Roger Garaudy, menulis tentang masalah ini:
Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis dan kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan) nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir ini, yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya melawan nasionalisme lain, adalah cara berpikir bunuh diri.

Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika Israel telah mengalami “de-Zionisasi” dan kembali pada agama Ibrahim, yang merupakan warisan spiritual, persaudaraan dan milik bersama dari tiga agama wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger Garaudy, “Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy”, Samizdat, Juni 1996)
Dengan alasan ini, kita hendaknya membedakan Yahudi dengan Zionisme.

Tidak setiap orang Yahudi di dunia ini adalah seorang Zionis. Kaum Zionis tulen adalah minoritas di dunia Yahudi. Selain itu, terdapat sejumlah besar orang Yahudi yang menentang tindakan kriminal Zionisme yang melanggar norma kemanusiaan. Mereka menginginkan Israel menarik diri secara serentak dari semua wilayah yang didudukinya, dan mengatakan bahwa Israel harus menjadi sebuah negara bebas di mana semua ras dan masyarakat dapat hidup bersama dan mendapatkan perlakuan yang sama, dan bukan sebagai ‘negara Yahudi’ rasis.

Kaum Muslimin telah bersikap benar dalam menentang Israel dan Zionisme. Tapi, mereka juga harus memahami dan ingat bahwa permasalahan utama bukanlah terletak pada orang Yahudi, tapi pada Zionisme.
Harun Yahya

Selasa, 30 Desember 2008

Bout Me ^-^ (2)



Seharusnya tak perlulah kau ketuk kembali pintu itu
Yang pada akhirnya kau tak ingin lagi tuk singgahi kembali
Yang hanya akan mengkoyak luka hati yang telah terkubur di dasar hati
Dan membuat rasa terperih tercipta lagi

Pergilah...
Karena kau sudah jauh melangkah tanpa terlihat lagi oleh pandanganku
tak seharusnya kau menoleh pandangan itu ke teras rumahmu yang dulu
Karena kau hanya membuang waktumu percuma

Pergilah ...
Teruskan perjalananmu tuk dapatkan keinginanmu
Karena aku bukanlah yang terbaik buatmu
Biarkanlah jejakmu tertinggal di lubuk hati terdalamku
Dan walaupun Tanpa bisa aku menyentuhnya kembali
Dan sendiri tanpamu
Tapi aku masih bisa sekali merasakan rasa itu

Karena aku ...
Aku hanyalah seorang yang terhempas dan dihempaskan
Oleh kebiadaban seorang insan yang tak punya perasaan
Terombang-ambing oleh beribu harapan-harapan mati
Mendekap rindu yang tak pernah terjawab sampai kini
Ratapan demi ratapan tangisan kian tangisan hampir kuhabiskan
tiap detik tiap waktu dan tiap sisi hari
semakin menuai penderitaan yang tiada bertepi

Takut aku benar-benar takut Cinta
Menyentuh kembali rasa itu
Takutku hanya akan menyakiti dan tersakiti
Takutku hanyalah tersia-sianya waktu tanpa arti
Takutku hanya rasa tanpa adanya rasa

Aku benar-benar takut Cinta
Apabila sosok itu hadir kembali
Sosok yang hanya menyakiti dan disakiti
Sosok yang hanya mengumbar janji-janji
Sosok yang hanya datang dan pergi tanpa hati
Sosok yang hanya meninggalkan ku sendiri dan tersendiri

Tapi hati tak memungkiri Cinta
Hati ini terus saja menanti hadirmu kembali
Hati ini masih tersimpan setitik harapan yang hampir mati
Karena hati ini masih ...
Hati ini masih benar-benar takut dan takut Cinta!!!!

Selasa, 23 Desember 2008

Mahasiswa Jogja Tolak UU BHP



Senin, 22 Desember 2008, 16:48 WIB
Margareta Endah W - GudegNet

Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) sudah disetujui oleh DPR pada 19 Desember 2008 lalu. Namun Rancangan Undang-Undang ini menimbulkan banyak penolakkan dari beberapa elemen mahasiswa. Bahkan baru-baru in terjadi demo menolak Undang-Undang BHP yang berbuntut pada kekerasan.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta menggelar demo serupa di tengah-tengah perempatan lampu merah Jl. Jendral Sudirman. 50 mahasiswa yang mengikuti demo ini kemudian melakukan long march yang berhenti di dua titik, Tugu Yogyakarta dan Kantor Pos Besar Jl.P. Senopati.

Sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam demo ini melakukan aksi tidur di jalan ketika mereka berhenti di Tugu Yogyakarta. Mereka tidur beralsakan apal panas sambil meneriakkan tuntutan-tuntuan mereka.

Supriyadi Asdar, Koordinator Umum demo "Batalkan UU BHP dan Selamatkan Pendidikan Anak Bangsa" ini mengatakan bahwa dengan disahkannya Undang-Undang BHP adalah bentuk pengkhianatan pemerintah terhadap amanat fundamental Undang-Undang Dasar 1945 dalam hal "mencerdaskan kehidupan bangsa" dengan menyediakan pendidikan yang baik bagi segenap warganya.

"Pemerintah tidak boleh lepas tangan sama sekali. Dalam Undang-Undang BHP tidak terdapat kewajiban pemerintah untuk memberi dana rutin," ujar Supriyadi. Lebih lanjut Supriyadi mengatakan bahwa Undang-Undang BHP ini akan menyebabkan pembiayaan pendidikan kembali kepada masyarakat, padahal masyarakat belum siap untuk menanggung biaya pendidikan sendiri tanpa campur tangan pemerintah.

Oleh karena itu, penolakkan HMI ini dinyatakan lewat tuntutan-tuntutan mereka kepada pemerintah agar membatalkan Undang-Undang BHP, memberhentikan liberalisasi dan privatisasi pendidikan dan segera merealisasikan anggaran 20 persen untuk pendidikan.

Tag: demo mahasiswa undang-undang pendidikan
http://gudeg.net/news/2008/12/4241/Mahasiswa-Jogja-Tolak-Undang-undang-BHP.html