Di Ujung Lelahku
Tersadar memang bahwa dia sudah pergi jauh dari kehidupanku. Mengartikan sejuta makna sebuah pertemuan. Pertemuan tanpa kesengajaan yang berarti, kalau "kebetulan" (" ,) tapi di dunia itu tidak ada yang kebetulan kan. Ini sudah digariskan oleh Allah SWT. Aku pun tidak akan pernah lupa pertemuan itu walaupun sebelumnya aku sering ketemu pada suatu acara diklat advokat, ternyata pertemuan itu merupakan awal dari semuanya (070907). Semuanya berjalan layaknya air mengalir. Indah pada waktunya kata orang bilang. Akhirnya aku memilih mu sebagai tambatan terakhir ku karena dengan keyakinanmu dan harapan-harapanmu. "Dek, Abang menyakitimu sama aja Abang itu menyakiti hati ibu Abang!!" Sangat menyentuh memang atau sudah takdirnya kaum adam untuk selalu merayu. Sungguh hal yang mustahil memang. Dari sekian yang mendekati aku, pilihanku ternyata tertuju pada dia. Aku suka dengan caranya mencintai aku. Pelan tapi pasti semuanya berjalan dengan teratur. Waktu demi waktu terlewati dengan indah. Aku benar-benar merasakan sebenar-benarnya cinta. Ditambah lagi dia komitmen untuk menjalani sisa hidupnya bersamaku. Di luar dugaan sekaligus tersanjung. Siapa pun wanita yang sudah cukup umur, merasa bangga dan tersanjung mendapat pernyataan yang memang bukan main-main. Pernikahan itu sifatnya sakral banget. Hati ku pun yakin dan selalu menjaga hati dengan sebaik-baiknya. Di sela- sela perjalanan cintaku ternyata tidak semulus yang aku kira. "No Body's perfect" Aku sadar itu. Kita berusaha sekuat tenaga untuk saling meyakinkan untuk tetap bertahan Atas Nama Cinta. Badai itu terlalu kuat menghempaskan semuanya. Keyakinanmu tiba-tiba runtuh oleh keadaan keluargaku yang tidak merestui hubungan ini. Perbedaan prinsip dan budaya. Alasan yang mendasar memang. Tapi hati ini benar-benar berontak dan berusaha meyakinkan orang tua bahwa kami akan baik-baik saja. Bahakan aku benar-benar merasa berdosa terhadap mereka sempat bersitegang semuanya dihadapi hanya dengan emosi belaka. Aku dilema. Takut kehilangan dia yang sudah berkorban banyak untukku walaupun akhirnya dia menjadi begitu dingin menghadapi masalah kami berdua. Pertengkaran demi pertengkaran selalu kita lewati tanpa penyelesaian yang ada. Sehingga pada klimaksnya aku mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya. Sebuah keputusan yang sulit bahkan sangat sulit. Tapi itu mungkin sudah jalan terbaik buat hubungan ini. 150 hari aku menjalani hidup dengan mu. Penyesalan itu ada bahkan sampai saat ini kurang lebih satu tahun aku melewati tanpa siapa2. Sampai saat ini juga aku tidak tahu kabar darinya. Dia tidak mau tahu dan tidak pernah mau tahu akan keadaanku sekarang. Hanya kata terakhir dia ucapkan untukku "Maafkan abang ya..Bukan maksud Abang untuk menyakiti hatimu abang mengambil keputusan ini". Hanya kata maaf. Sungguh aku baru merasakan luka yang terperih sangat perih. Bertolak belakang sekali pada saat aku masih bersamanya, sebelumnya aku dan dia pernah mengalami kejadian yang sama dan aku dia selalu saling memaafkan dan berusaha untuk mempertahankan. Tapi sekarang hanya ada Impian dan harapan itu yang masih menggantung kuat di awang-awang pikiranku, impian dan harapan tiada bertuan tidak ada yang merasa memilikinya. Sehingga hanya sebuah ruang kebahagiaan yang kosong. Aku ditinggalkan dalam keterasingan tanpa siapa pun. kini aku hanya bisa meratapi ya hanya meratapi dan ...menangis, hanya itu!!!
S
ehingga kabut..
Aku ingin sekali berkata-kata dengan suatu bahasa yang kau mengerti benar, baik bunyinya maupun maknanya
Sehingga dapat kau pahami sesuatu yang bergerak di sebearang kabut..
Sehingga dapat kau dengar suara langkah yang terhenti tiba-tiba, helaan nafas yang tertahan dan tersembunyi dlam kabut
Sehingga kau pun mengenali dan mengerti
jalan yang menurun atau mendaki, batu-batuan dan akan pepohonan yang terkurung kabut
Sehingga kabut...
kau tak pernah akan bimbang olehnya
Aku ingin sekali mengisyaratkan semacam kata yang kau tak sangsi akan maksudnya
Yang kau mengerti sepenuhnya
Sehingga kabut akan secepatnya..
Karya : Ags. Arya Dipayama
Puisi koe...
Aku ingin sekali menorehkan kembali rasaku
Rasa yang pernah kau tancapkan di palung hati terdalamku
Mengapa tak kau izinkan?
Tak pernah sekalipun aku mengerti akan pernyataanmu itu
Sedang hatimu masih tertuju padaku tapi mengapa wujudmu tidak
Ini tidak adil bagiku
Aku ingin semua yang ada pada dirimu
Cintamu, hatimu dan juga ragamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Your Comment, Please...!!!